Featured Posts

Saturday, April 9, 2016

CONTOH MAKALAH PENGGUNAAN BAHASA DILINGKUNGAN PELAJAR

- No comments
MAKALAH
PENGGUNAAN BAHASA
DILINGKUNGAN PELAJAR






Dosen Pembimbing
Drs. H. Eddy Sugiri, M. Hum.

Disusun Oleh:
1.      Amriyana Lista Nugraha             ( 121411131019 )
2.      Rengga Anstice                             ( 121411131046 )
3.      Utsmanul Fatih                             ( 121411131002 )



DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Bahasa merupakan suatu komponen terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi dengan seseorang baik secara penuturan langsung atau bahasa lisan maupun tulisan. Dalam komunikasi sendiri sering ditemui ketidakpahaman antara penutur dan pendengar. Faktor tersebut karena tingkatan bahasa yang digunakan penutur  terlalu tinggi atau ia menggunakan bahasa populer, sehingga orang yang diajak bicara tidak paham apa yang sedang dibicarakan penutur.
Mengetahui tingakatan bahasa harus dimiliki oleh setiap orang terutama penutur agar tingkat keberhasilan komunikasi bisa efektif. Contoh seorang dosen yang sedang mengajar dengan bahasanya, yakni bahasa populer. Dalam kasus tersebut mahasiswa mampu memahami bahkan ada timbal balik karena mahasiwa mengerti apa yang dibicarakan dosen. Apabila dosen tersebut berkomunikasi dengan anak kecil menggunakan bahasa yang biasanya dipakai saat berkomunikasi dengan mahasiswa, maka yang terjadi ialah anak tersebut tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan penutur. Oleh karena itu, agar terjadi komunikasi yang efektif harus mengerti lawan bicara atau orang yang diajak bicara.
Kata baku yang baik dan benar menurut EYD sepantasnya menjadi bahasa komunikasi sehari-hari. Walaupun banyak yang orang berkata bahwa kata baku hanya digunakan pada saat acara-acara resmi seperti diskusi, rapat, presentasi, dll., namun apa salahnya jika digunakan pada saat mengobrol. Selain sebagai pembelajaran terutama pada anak-anak seusia SD, kata baku juga sebagai kemahiran dalam berkomunikasi.

1.2         Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah dalam penelitian ini ialah “bagaimana penggunaan bahasa tutur dikalangan anak-anak?”

1.3         Tujuan
          Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui penggunaan bahasa Indonesia dikalangan anak-anak.

1.4         Manfaat penelitian
          Dengan diadakannya penelitian ini, peneliti berharap pembaca dapat mengerti bahasa Indonesia yang digunakan pelajar dikalangan anak-anak.










           














BAB II
METODE PENELITIAN
2.1  Jenis penelitian
       Jenis penelitian yang digunakan dalam menyusun laporan makalah ini adalah dengan cara  bertanya langsung kepada narasumber, sehingga memperoleh data yang akurat.
 2.2  Obyek Penelitian
        Obyek penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam membuat makalah yang berjudul “Penggunaan Bahasa dilingkungan Pelajar” ini adalah dengan cara bertanya langsung kepada siswa yang bersangkutan.
2.3  Teknik Analisis Data
               Dalam penelitian kualitatif ini, setelah semua data terkumpul, maka langkah yang selanjutnya ialah memilih data. Mana data yang sesuai (relevan) dan data mana yang tidak sesuia. Setelah itu data dianalisis dengan menggunakan “analisis data deskriptis”, yaitu peneliti menggambarkan jawaban dari hasil observasi dan hasil wawancara diatas dalam bentuk kontekstual.














BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Bahasa merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa bahasa tutur atau bahasa tulis orang tidak akan mengerti suatu hal. Namun, tidak semua bahasa dimengerti oleh semua orang. Dalam bahasa indonesia, ada yang namanya bahasa dengan menggunakan kata istilah dan kata populer. kata istilah ialah bahasa yang dipakai untuk suatu pengkajian atau kepentingan keilmuan. Sedangkan kata populer sendiri ialah kata yang lazim digunakan pada masyarakat pada umumnya. Ini terkadang yang menyebabkan pendengar tidak mengerti maksudnya saat penutur menggunakan bahasa istilah.
Sama halnya dalam dunia pendidikan. Pada saat proses belajar, penutur terkadang menggunakan kata istilah dan kata populer. Kata istilah digunakan agar mengerti bahasa populer dari permasalahan pembelajaran tersebut. Dan kata populer digunanakan agar timbal balik antara penutur dan pendengar dapat terjadi.
Pengunaan kata istilah wajar digunakan pada saat proses pembelajaran ditingkat SMA ataupun perkuliahan, sebab kata tersebut tidak asing lagi bagi mereka. Namun jika kata istilah tersebut digunakan pada saat proses pembelajaran ditingkat SD, kata istilah tersebut tidak mudah untuk dipahami oleh mereka. Kata istilah yang digunakan dalam proses belajar tingkat SD hanya kata istilah yang umum, seperti kata istilah; efektif, istilah Dalam konteks tersebut, penggunaan kata harus sesuai dengan tingkat kecerdasan dan penggunaan dalam mengolah kata.
Proses yang baik ketika pembelajaran ditingkat SD ialah menggunakan kata populer yang baku. Baku maksudnya ialah kata yang sesuai dengan aturan bahasa Indonesia. seperti contoh kata istilah dan populer sebagai berikut ; aktivitas (istilah) kegiatan (populer). Pasien (istilah) orang sakit (populer), rangking (istilah) peringkat (populer), dll. kata tersebut masih dalam kategori “kata istilah ringan”. Semisal jika kata istilah yang digunakan dalam proses belajar setingkat SD ialah ; absolutisme, mikro, makro, dll. ini akan membuat siswa merasa jenuh dan tidak mengerti maksud pembicaraan tersebut. Apalagi yang paling parah ialah ada guru yang menggunakan bahasa daerah ataupun bahasa prokem.
Seperti contoh ada guru yang berkata pada saat proses belajar, “sandi adalah orang keturunan darah biru”.dari contoh tersebut, anak SD dan setingkatnya akan mengira bahwa sandi keturunan dari orang yang darahnya biru, bukan merah. Tapi jika kalimat tersebut papar pada orang yang sudah mengerti, maka secara langsung orang tersebut berpikir bahwa sandi adalah kalangan bangsawan atau orang terpandang.
Penggunaan kata istilah dalam proses belajar untuk anak-anak kurang baik karena sulit dipahami. Namun ada baiknya juga karena sebagai pengenalan istilah baru. Bahasa yang digunakan anak-anak seusia SD ialah cenderung bahasa daerah masing-masing. Baik diluar maupun di dalam kelas. Ini dikarenakan saat masih kecil sudah diperkanalkan oleh lingkungan bahasa daerah tersebut.




















BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
        Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang tidak dapat dipisahkan lagi. Namun ada juga seseorang yang tidak saling mengerti antara penutur dan pendengar yang disebabkan karena kata yang diucapkan penutur tidak dimengerti oleh pendengar.
Menggunakan kata baku tidak harus digunakan pada saat acara-acara resmi saja, tetapi juga dapat dipraktikan dalam bahasa sehari-hari, agar orang-orang tidak mengutamakan bahasa prokem dalam kesehariannya.
4.2  Saran
       Guru sebagai penutur dalam proses belajar. Guru harus menggunakan bahasa baku yang baik dan benar, karena dengan begitu anak-anak bisa mengerti mana yang benar dan mana yang salah.
              


















DAFTAR PUSTAKA
Khoirudin., dkk. 2009. Buku Pintar Bahasa Indonesia. Yogyakarta:                           Lentera Ilmu

Rohman, Muhammad., dkk. Belajar Bahasa Indonesia. Surakarta:                             Cakrawala Media

Kata Mutara dari Micheal Bernard Beckwith

- No comments
Kita hidup di semesta yang mempunyai hukum-hukum, sama seperti adanya hukum gravitasi. Jika anda jatuh dari sebuah gedung, tidak menjadi soal apakah Anda orang baik atau jahat, Anda akan menumbuk tanah.

Hukum tarik-menarik adalah hukum alam. Hukum ini tidak terpisahkan dan dan tidak memilih, sama seperti hukum gravitasi. Hukum ini tetap dan pasti.

Kata Mutiara dari Dr. Joe Vitale

Segala sesuata yang ada pada saat ini mengelilingi Anda, termasuk  hal-hal yang anda keluhkan, adalah sesuatu yang Anda tarik sendiri kedalam hidup Anda. Saya tahu ini adalah sesuatu yang tidak suka Anda dengar. Anda akan segera berkata, “Saya tidak menerima kecelakaan. Saya tidak menarik klien yang jelas-jelas sangat menyusahkan saya ini. Saya tidak menarik utang kepada diri Saya.” Baik, Saya ada disini untuk sedikit menantang Anda dan berkata, “ya, Anda menarik sendiri !” Ini adalah salah satu konsep yang paling sulit diterima, tetapi sekali Anda menerimanya, hidup Anda akan berubah.

sering kali, ketika orang-orang pertama kali mendengar bagian dari rahasia ini, mereka mengingat peristiwa-peristiwa sejarah ketika banyak orang meninggal, dan mereka tidak patah memahami bahwa begitu banyak orang menarik sendiri kematiannya secara bersamaan. Menurut hukum tarik-menarik, mereka harus berada di frekuensi yang sama dengan peristiwa itu.  Ini tidak harus berarti mereka memikirkan peristiwa itu secara tepat, tetapi frekuensi dari pikiran mereka cocok dengan frekuensi peristiwa. Jika orang percaya bahwa mereka bisa berada di tempat yang salah pada saat yang salah, dan mereka tidak dapat mengendalikan situasi di luar dirinya, pikiran-pikiran tentang kekuatan, pemisahan, dan ketidakberdayaan itu jika berlangsung terus-menerus dapat menarik mereka berada di tempat yang salah pada saat yang salah.

Saat ini juga Anda memiliki pilihan. Apakah anda percaya bahwa ini adalah hal keberuntungan dan hal-hal buruk yang dapat terjadi kapan saja pada Anda ? Apakah Anda ingin percaya bahwa Anda bisa berada di tempat yang salah dapa saat yang salah ? Bahwa Anda tidak mempunyai kendali atas situasi ? Atau Anda ingin percaya dan tahu bahwa pengalaman hidup Anda berada di tangan Anda dan bahwa hal-hal yang baik yang datang hidup anda karena begitulah cara berpikir Anda ? Anda mempunyai pilihan, dan apapun yang Anda pilih akan menjadi pengalaman hidup Anda.
Tidak ada yang dapat datang ke pengalaman Anda kecuali jika Anda memanggilnya melaluin pikiran yang terus-menerus.


Sinopsis Novel Kapai-kapai Karya Arifin C. Noer

- No comments
            
            Novel               : Kapai-kapai
            Pengarang       : Arifin C. Noer
            Tahun Terbit   : tahun, 1972
            Tebal Hal         : 64

            Novel “Kapai-kapai”  karya Arifin C. Noer yang berbentuk darma. Dalam novel “kapai-kapai” tersebut di kisahkan tentang sosok Abu yang mencari kebahadiaan yang ingin digapainya. Ia menghalalkan segala cara untuk itu. Dalam novel tersebut juga menggambarkan sosok Emak yang mendongengkan kalau dahulu kala ada seorang pengeran dan putri yang hidup bahagia. Mereka dapat hidup bahagia karena sang pengeran dan sang purtri mempunyai cermin sakti yang disebut dengan cermin tipu daya. Karena keinginan Abu yang ingin hidup bahagia, Abu pun bertanya kepada Emak dimana letak Cermin Tipu Daya yang Emak maksud tadi. Emak pun menjawab kalau cermin yang ia maksud sekarang ada di ujung dunia, negeri Sulaiman.

            Abu masih bingung dengan cermin yang Emak maksud itu, dimana letak negeri sulaiman itu? Dimanakah letak ujung dunia? Abu ngelamun terus menerus dan belum menemukan jawaban. Karena rasa bingungnya, menanyakan kepada katak, pohon, rumput, air, batu, kambing untuk memecahkan permasalahanya. Akhirnya Abu pun bertemu dengan seorang kekek-kakek yang sudah tua, Abu menanyakan tetang hal tersebut. Sang kakek menjawab bahwa cermin sakti ialah cermin yang bisa melahirkan sifat kejujuran dan kesadaran pada setiap hal apa pun. Namun, Abu belum merasa puas dengan jawaban tersebut, ia masih cenderung ke perkataan Emak. Abu masih tetap melamun dan melamun. Tiba lamunan Abu pun hilang ketika majikannya memanggilnya. Namun, Emak masih tetap menghibur hati Abu dan melanjutkan dongeng pangeran dan putri yang kaya raya dengan mengunakan Cermin tersebut. Abu malah bingung.

            Hari-hari Abu di warnai dengan kebingungan. Ia tak seperti biasanya. Ia masih kepikiran tentang Cermin Tipu Daya sebenarnya. Sampai Iyem, istri Abu, ia sangat memarahinya karena perubahannya, Iyem mengetahui kalau Abu sedang tidur enak pada saat jam bekerja. Dalam tidur pulasnya, Abu bermempi bertemu dengan sang putri. Namun dengan kecerdikan Abu, abu pun merayu Iyem yang sedang marah. Kemudia mereka baikan hingga mereka berdua menari sampai berciuman.

            Dalam novel tersebut diceritakan sosok Abu yang mulai menua. Muka Abu mulai mengerut dan tidak berdaya. Tapi iya selalu mengharap Cermin Tipu daya tersebut. Iyem dan Abu bingung memikirkan nasib mereka. Dengan biasanya, Emak selalu memberi semangat untuk menjalani kehidupan yang ada. Emak menghibur dengan cara membawakan lenong dan membawakan sebuah cerita yang mengisahkan pangeran, jin, raja dan lain-lain
.
            Tanggung jawab Abu masih ada. Majikannya masih menyuruh seperti biasanya. Teriakan-teriakan majikan masih bergulir terus menerus. Tapi mau bagaimana lagi, hidup Abu dan Iyem hanya berpacu kepada waktu. Abu sudah pasrah dan dalam pikiranya ia tidak akan mendapatkan Cermin Tipu Daya yang ia harapkan. Namun, Emak berkata bahwa Abu pasti menemukan apa yang ia cari. Kata Emak juga bahwa yang ia cari sudah hampir ketemu. Singkat cerita, Abu telah menemukan ujung dunia yang selama masa hidupnya ia cari, Cermin Tipu daya. Setelah itu Emak membunuh Abu dari belakang. Dan akhirnya Abu meninggal dunia. Itu lah Cermin Tipu Daya yang dimaksud. Sebuah kepuasan hidup.

            

Pengertian Fonologi dan Morfologi

- No comments
Dalam pembahasan mengenai fonologi, kita memahami bahwa fonem adalah kesatuan bunyi terkecil yang membedakan arti, seperti pada pasangan mata-mati, kedua bunyi /a/ dan /i/ adalah dua fonem yang membedakan arti. Sekarang kalau kata mati itu dirubah menjadi  kematian atau mati- matian maka dua kata terakhir ini adalah bentukan baru yaitu dengan menambahkan ke dan an dan pengulangan mati ditambah an. Dua kata baru ini mempunyai arti yang berbeda dari makna kata asal mati. Perubahan-perubahan bentuk inilah yang dipelajari morfologi (morphe = form = bentuk). Karena itu ada yang memberi definisi morfem sebagai satu satuan bentuk terkecil yang mempunyai arti. Morfologi ini bukan hanya mencakup studi sinkronik (morphemic), tapi juga sejarah dan perkembangan dan pembentukan kata (historial morphology).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi – bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.
Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.Dengan demikian, fonologi adalahmerupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwafonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

2.         Ilmu-Ilmu yang Tercakup dalam Fonologi
Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian yakni  fonetikdan fonemik.
a)         Fonetik
Menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fonetik diartikan: bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.
Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu:
1)         Fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.
2)         Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya,dan intensitasnya.
3)         Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.
Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia.Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran.
b)         Fonemik
Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian tersebut, fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan: (1) bidang linguistik tentang sistem fonem; (2) sistem fonem suatu bahasa; (3) prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa.
Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti.
Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u] jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r].Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

Sebagai bidang yang berkosentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguitik yang lain, misalnya morfologi, sintaksis, dan semantik.
1)         Fonologi dalam cabang morfologi
Bidang morfologi yang kosentrasinya pada tataran struktur internal kata sering memanfaatkan hasil studi fonologi, misalnya ketika menjelaskan morfem dasar {butuh} diucapkan secara bervariasi antara [butUh] dan [bUtUh] serta diucapkan [butuhkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks   {-kan}.

2)         Fonologi dalam cabang sintaksis
Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, ketika berhadapan dengan kalimat kamu berdiri.(kalimat berita), kamu berdiri? (kalimat tanya), dan kamu berdiri! (kalimat perintah) ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu tentang intonasi, jedah dan tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia.

3)         Fonologi dalam cabang semantik
Bidang semantik, yang berkosentrasi pada persoalan makna kata pun memanfaatkan hasil telaah fonologi.Misalnya dalam mengucapkan sebuah kata dapat divariasikan, dan tidak. Contoh kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras] akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan makna.Hasil analisis fonologislah yang membantunya.


Friday, April 8, 2016

Pengertian Secara Etimologi

- No comments
Nama : Utsmanul Fatih
NIM          : 121411131002

Pengertian filologi, secara etimologi, filologi berasal dari kata Philos yang berarti cinta  dan logos berarti kata, Secara terminologi, filologi disebut sebagai ilmu yang mempelajari bahasa, budaya, dan sejarah melalui bahan tertulis. Sekarang ini istilah filologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno dari nilai berdasarkan naskah-naskah tertulis.
Ada lagi yang mengatakan bahwa filologi merupakan ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik. Hal ini lebih sering didefinisikan sebagai studi tentang teks-teks sastra dan catatan tertulis, penetapan dari keotentikannya dan keaslian dari pembentukannya dan penentuan maknanya. Filologi juga merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah dari zaman kuno.
Macam- macam pengertian filologi dan sejarah perkembangannya
1.     Filologi sebagai ilmu tentang pengetahuan yang pernah ada
Informasi mengenai masa lampau suatu masyarakat dapat diketahui oleh masyarakat kini melalui peninggalan-peninggalannya baik yang berupa benda-benda budaya ataupun karya tulisan, karya tulisan pada umumnya mempunyai caku[an informasi yang luas, oleh karna itulah, kemudian filologi memperoleh arti pengetahuan.

2.     Filologi sebagai ilmu bahasa
Sebagai hasil budaya masa lampau, peninggalan tulisan masa lampau perlu dipahami dalam konteks masyarakat yang melahirkannya, pengertian tentang berbagai konvensi yang hidup dalam masyarakat yang melatar belakangi penciptanya mempunyai peran yang besar bagi upaya untuk memahami kandungan isinya, mengingat bahwa awal dari karya tulisan masa lampau berupa bahasa, maka pekerja filologi pertama-tama dituntut untuk mengetahui bekal pengetahuan tentang bahasa yang dipakai dalam tulisan lama tersebut, hal ini berarti juga bahwa pengetahuan kebahasaan secara luas diperlukan untuk membongkar isi karya tulisan masa lampau, dengan demikian seorang pekerja filologi harus pula ahli bahasa, dari situasi inilah kemudian filologi dipandang sebagai ilmu bahasa.

3.     Filologi sebagai ilmu sastra tinggi
Dalam perkembangannya karya-karya tulisan masa lampau yang didekati dengan filologi berupa karya-karya yang memiliki nilai yang tinggi didalam masyarakat, karya-karya itu pada umumnya dipandang sebagai karya-karya sastra ‘adiluhung’

4.     Filologi sebagai studi teks
Filologi dipakai juga untuk menyebut ilmu yang berhubungan dengan studi teks, yaitu studi yang dilakukan dalam rangka mengungkapkan hasil budaya yang tersimpan didalamnya, pengertian demikian antara lain dapat dijumpai pada filologi di negara belanda.

5. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Sejarah Kebudayaan.
 Di antara kegiatan filologi adalah mengumpulkan naskah-naskah lama, memelihara dan menyuntingnya. Oleh karenanya filologi banyak mengungkap khazanah ruhaniyah warisan nenek moyang, seperti : kepercayaan, adat istiadat, kesenian dan lainnya. Lewat pembacaan naskah lama, banyak kita jumpai istilah-istilah untuk unsur-unsur budaya dalam bidang musik, takaran, timbangan, ukuran, mata uang dan sebagainya. Semua itu merupakan bahan yang sangat berguna di dalam penysunan sejarah kebudayaan.

Cerita Rakyat: Gua Langsih dan Berandal Lokojoyo di Gresik

- No comments
Nama   : Utsmanul Fatih
NIM    : 121411131002

Cerita Rakyat: Gua Langsih dan Berandal Lokojoyo

Gunung Larangan terletak di sebelah Utara Gunung Surowiti. Kalau dari jalan raya Deandles jaraknya 1 km. Di atas Gunung Larangan juga terdapat situs yaitu Makam Mbah Syafi’I, Mbah Abdur Rohman (Bupati Majapahit), Mbah Sholeh. Ketiga Waliyulloh itu adalah Murid dari Raden Secoh/ Sunan Kali Jaga yang lain berdakwah dan Bermukim di atas Gunung Sirowiti, yaitu Suro Astono, Suro Gento dan Empu Supo (Pejabat Majapahit).

Singkat Cerita Para Waliyulloh ini mempunyai tugas yang sama yaitu menjaga Tumbal Tanah Jawa yang di tanam Syekh Subakir (Persia) yang diutus Sultan Muhammad (Turki), di tengah-tengah 3 Gunung yang berada di Panceng. Gunung Putusan (Kukusan), Bukit Menoreh (Gunung Larangan), Gunung Surowiti, ketiga gunung ini adalah tempat di tanamnya Tumbal Syekh Subakir untuk menjaga tanah Jawa dan melindungi tanah Jawa dari gangguan Makhluk Astral yang Durjana.

Gunung Surowiti merupakan petilasan (bekas tempat berdiam) Sunan Kalijaga saat ia masih belum diangkat menjadi Sunan. Ketika itu ia masih bernama Raden Said, mantan dedengkot “Berandal Lokojoyo” yang akhirnya bertobat. Ketika Raden Said sedang mencari tempat untuk menenangkan diri, dia mencari gunung dan menemukan gua. Dia lantas bersemedi di tempat yang kini disebut sebagai Gua Langsih. Ketika dia sudah bergelar Sunan, beberapa benda pribadinya ditinggal di tempat itu agar dia ingat di manakah dia dulu pernah bersemedi. Salah satunya disimpan di dalam gua, sedangkan satunya lagi disimpan di tempat yang kini didirikan sebuah bangunan "pesarean".

Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan kalijaga adalah putra Adipati Tuban, Wilwatikta. Nama aslinya Raden Said. Sunan kalijaga ini seperti diketahui bersama makamnya ada di Kadilagu Demak. Namun, yang jarang diketahui banyak petilasan yang dipercaya masyarakat bisa mendatangkan fadhilah. Salah satunya terdapat di Desa Surowiti, Kecamatan Panceng, Gresik.

Nama Kalijaga berasal dari pertemuannya dengan Sunan Bonang, saat ia menjadi begal dengan julukan Brandal Lokajaya karena kekecewaannya pada ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat ketika itu. Setelah ditundukkan Sunan Bonang, selama setahun Raden Mas Said diminta menjaga tongkat yang ditancapkannya di tepi kali dan ditugaskan memperdalam ilmu agama dari kitab yang ditinggalkannya. Namun konon baru tiga tahun kemudian Sunan Bonang kembali untuk menjumpai Raden Mas Said. Karena kecerdasannya, kedalaman dan ketinggian ilmunya, serta pendekatan yang dilakukannya dalam berdakwah dan berpolitik, Sunan Kalijaga termasuk salah satu dari Wali Songo yang paling disegani, dan sering disebut Wali Kutub atau leluhuring Wali

Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga membuat perumpamaan yang mudah dipahami masyarakat. Dikatakannya bahwa setelah petani selesai membajak sawah, tetap saja ada bagian tanah di sudut sawah yang belum terbajak, yang diartikan bahwa selalu ada kekurangan meskipun cita-cita telah tercapai. Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa Pacul terdiri dari tiga bagian. Pertama Pacul, Ngipatake Kang Muncul: dalam mengejar cita-cita ada banyak godaan yang harus dikesampingkan. Kedua Bawak, Obahing Awak: cita-cita dicapai dengan berupaya dan melakukan kerja keras secara fisik. Ketiga Doran, Dedongo ing Pangeran, dalam mengejar cita-cita jangan lupa untuk selalu memanjatkan do’a kepada Pangeran, Tuhan yang menguasai alam fana dan baka, yaitu Allah. Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada 1430-an, dan hidup dari jaman Majapahit sampai awal berdirinya Kerajaan Mataram, sehingga usianya diperkirakan mencapai 150 tahun. Makam Sunan Kalijaga berada di Kadilangu, Demak.

Sejak saat itu, Gua Langsih dikenal sebagai petilasan Sunan Kalijaga dan rajin dikunjungi tamu dari berbagai tempat untuk berdoa dan “ngalap berkah”. Hingga entah dari mana asal usulnya, kemudian muncul kabar yang mengatakan bahwa gunung ini merupakan tempat pesugihan dan tempat orang mencari tuyul.

Penjaga Gunung Surowiti menjelaskan, memang banyak orang yang datang ke Gunung Surowiti untuk berdoa. Kebanyakan di antaranya memohon agar mendapat rejeki dan kelancaran usaha. Mungkin karena kemudian doanya terkabul, mereka lantas jadi makin sering berkunjung untuk berdoa, bahkan tidak jarang membawa teman dan kerabat untuk berdoa bersama. Agaknya, inilah yang memunculkan anggapan miring bahwa tempat ini adalah tempat pesugihan. Ditambah munculnya mitos yang bermacam-macam mengenai batu bertuah di dalam Gua Langsih yang disebut “Sungu Menjangan” atau berarti tanduk menjangan, semakin membuat orang penasaran dan ingin membuktikan.

MITOS

Menurut warga setempat memang benar mengakui kalau di Desa Surowiti ini juga identik dengan peziarah yang mencari pesugihan terutama tuyul. Tempat tersebut berada pada makam Raden Bagus Mataram. Cerita yang berkembang, Raden Bagus Mataram adalah salah seorang putra Sultan agung Mataram. Tidak jelas sultan yang keberapa dan dari istri yang mana juga.

Dari cerita tutur, Raden Bagus Mataram suatu saat menemui Sunan Kalijaga dan mengungkapkan niatnya ingin menjadi muridnya. Melihat hal itu, kanjeng Sunan tidak begitu saja percaya. Karena itu di ingin mengetes kesungguhan hati Raden bagus Mataram. Ia lalu memberikan syarat untuk meninggalkan keduniawian dengan cara memberikan separuh harta yang dimiliki kepada fakir miskin dan separuh lagi mengqorunkan (memendam) harta bendanya. Raden Bagus Mataram pun menyetujui syarat itu dan melakukan seperti yang diucapkan Sunan kalijaga.

Karena lamanya harta benda milik Raden Bagus Mataram itu dipendam, maka akhirnya benda-benda tersebut menjadi milik gaib. Namun, bukan makhluk-makhluk gaib yang besar-besar dan menyeramkan, melainkan makhluk-makhluk kecil menyerupai anak-anak yang biasa disebut tuyul.
Konon, tuyul-tuyul ini selalu bergerombolan disebuah gunungan harta benda milik Raden Bagus Mataram yang telah di qorunkan tersebut. Seperti anak-anak kecil, mereka bermain, bercanda, dan bersenda gurau. Namun, jika ada yang menghendaki salah satu dari mereka ikut manusia, asal persyaratannya sesuai, tuyul-tuyul penunggu itu pun bisa dibawa pulang dan digunakan mencari kekayaan bagi pelakunya. Namun, semua itu tidak ada yang gratis dan risikonya sangat besar.


Di dalam gua yang paling bawah, ada sebuah batu tempat Sunan Kalijaga bersandar dan mitosnya, ketika seseorang bisa merangkul dan ketemu ujung kedua jari tangannya, mitosnya hajatnya akan terkabul. Tidak cukup sampai disitu, saat berada dalam gua ini sama sekali tidak gerah, lazimnya gua-gua yang lain. Seperti ada hawa sejuk, padahal celah udara yang ada pada gua ini hanya pada tempat masuk yang hanya sebesar tubuh orang dewasa. Barangkali inilah bagian dari misteri Gua Langsih yang membedakan dengan gua-gua yang lain dengan tipologi yang hampir sama.

MAKALAH TEORI OBJEKTIF, SUBJEKTIF DAN KEARIFAN LOKAL

- No comments
MAKALAH
TEORI OBJEKTIF, SUBJEKTIF DAN KEARIFAN LOKAL





Oleh:
Utsmanul Fatih           (121411131002)



DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
                        Perdebatan penilaian dengan pendekatan obyektif dan objektif banyak dilakukan dikalangan seniman. Namun, tidak salah jika persoalan-persoalan itu dicermati, diangkat dengan mengambil manfaat positif untuk memperoleh kesempurnaan dalam proses penilaian pembelajaran teknik yang dilakukan.
                        Manusia memiliki sensibilitas esthetis, karena itu manusia tidak dapat dilepaskan dari keindahan. Manusia membutuhkan keindahan dalam kesempurnaan (keutuhan) pribadinya. Tanpa estetika , manusia tidak lagi mempunyai perasaan dan semua kehidupan akan menjadi steril. Demikian eratnya kehidupan manusia dengan keindahan, maka banyak para ahli mengadakan studi khusus tentang keindahan.
Teori tentang keindahan dan seni dikembangkan menjadi “estetika”. Aslinya estetika berarti "tentang ilmu penginderaan” yang sesuai dengan pengertian etnologisnya. Tetapi kemudian diberi pengertian yang dapat diterima lebih luas ialah teori tentang keindahan dan seni”.
                        Filosof yang pertama memperlakukan estetika sebagai suatu bidang studi khusus ialah Baumgarten (1735). Baumgarten mengkhususkan penggunaan istilah ‘estetika” untuk teori tentang keindahan artistik, karena ia berpendapat seni sebagai pengetahuan perseptif perasaan yang khusus. Tetapi filosof lain seperti Kant tidak sependapat dengannya, sehingga ia tidak pernah menggunakan istilah estetika dalam memperbincangkan teori tentang keindahan dan seni.
                        Aristoteles menggunakan istilah “puitik" dan untuk teori keindahan artistik, yang oleh Baumgarten dijadikan bagian khusus dan estetika. Dahulu estetika dianggap sebagai suatu cabang filsafat, sehingga memiliki atau diberi pengertian sebagai sinonim dan ‘filsafat seni. Tetapi sejak akhir abad 19, lebih-lebih akhir- akhir ini ada suatu gejala yang menekankan sifat-sifat imperis, oleh karena itu menganggap sebagai “ilmu pengetahuan tentang seni”.
                        Dalam sejarah peradaban manusia, perhatian pada estetika demikian menonjol dan berpengaruh langsung atau tidak langsung memprakarsai aspek-aspek kehidupan intelektual, spiritual dan konsep estetik dalam masyarakat. Bangsa Yunani kuno telah menyadari betapa pentingnya anti keindahan dan seni dalam konsep hidup manusia. Dan bangsa Timur (termasuk Indonesia) bahkan lebih tinggi menempatkan pentingnya keindahan dan seni dalam konsep hidupnya. hasil-hasil karya seniman timur, merupakan penampilan ekspresi tertinggi tentang kebutuhan spiritual ini.
                        Untuk penelitian mengenai keindahan, para filosof memiliki argumen masing-masing. Perbedaan yang menonjol ialah bagaimana cara meneliti sebuah benda yang bersifat estetik. Hal yang sering diperdebatkan ialah masalah teori subjektif dan objektif dalam mendefinisikan keindahan.

B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas ditemukan beberapa permasalahan, diantaranya:
1.      Apa definisi teori objektif dan subjektif ?
2.      Bagaimana contoh penerapan teori objektif  dan subjektif?


C.     Tujuan
1.      Menjelaskan definisi teori objektif dan subjektif.
2.      Contoh penerapan teori objektif dan subjektif.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi  Teori Objektif dan Subjektif
            Teori keindahan menimbulkan 2 kelompak teori yang terkenal, teori objektif dan teori subjektif tentang keindahan. Kelompok teori obyektif dianut oleh : Plato, hegal,dan Bernard Bosanquet, sedangkan teori Subyektif di dukung antara lain Henry Home, Earl of Shaftesbury (Lord Ashley) dan Edmund Burke. Dimana dua kelompok tersebut saling bertentangan terhadap pendapat campuran dan berbagi variasi pemikiran yang condong kepada salah satu teori.
           
            Teori obyektif yaitu keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetis adalah sifat yang memang telah melekat pada benda yang dijadikan objek, terlepas dari orang yang mengamatinya. Sedangkan Teori subjektif memiliki ciri keindahan pada sesuatu benda sesungguhnya tidak ada, hanya tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati suatu benda.

            Salah satu yang menjadi permasalahan dalam teori ini adalah ciri-ciri khusus manakah yang membuat sesuatu benda menjadi indah atau dianggap bernilai estetis.  Sedangkan teori subyektif yaitu ciri-ciri yang menciptakan keindahan pada sesuatu benda sesungguhnya tidak ada, yang ada hanyalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati suatu benda. Adanya keindahan ini semata-mata tergantung pada perasaan dari pengamat. Jika dinyatakan bahwa sesuatu benda mempunyai nilai estetis, hal ini diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh suatu pengalaman estetis sebagai tanggapan terhadap benda itu. Contohnya seperti pemandangan alam, pemandangan alam dapat dianggap mempunyai unsur keindahan tidak bersifat subyektif atau menurut standart keindahan dari penilaian tetapi memang pemandangan alam itu memiliki unsur keindahan di dalam dirinya yang mutlak sifatnya. Sedangkan Obyek atau benda dalam keindahan obyektif adalah suatu benda yang memang memiliki unsur estetika didalamnya dan memaksa pihak subyektif untuk menerima unsur keindahan yang memang dimiliki dari benda tersebut. Keindahan dalam arti seni berbeda dengan keindahan dalam arti terbatas yang bersifat obyektif dan dipengaruhi unsur statis. Unsur statis merupakan ciri estetis yang melekat pada bentuk dan warna suatu benda sehingga relative tetap dari masa ke masa dan di semua tempat.

B.     Contoh Penerapan Teori Objektif Dan Subjektif
            Di dalam teori obyektif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetis adalah sifat yang memang telah melekat pada benda indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya . pengamatan seseorang hanyalah menemukan atau menyingkapkan sifat-sifat indah yang sudah ada pada sesuatu benda dan sama sekali tidak berpengaruh untuk mengubahnya. Salah satu yang menjadi persoalan dalam teori ini adalah ciri-ciri khusus manakah yang membuat sesuatu benda menjadi indah atau dianggap bernilai estetis.

Dalam hal ini peneliti mencontohkan keindahan bukit jamur secara objektif. Hal yang menarik dan indah dari bukit jamur ini ialah karena berbentuk menyerupai jamur serta di daerah sekitarnya juga banyak terdapat bukit-bukit kapur yang terbentuk dari sisa-sisa penggalian batu kapur.

Bukit jamur di Gresik ini memang terbukti sangat indah, selain bentuknya yang mirip dengan jamur, bukit jamur ini juga dikelilingi bukit kapur dan sawah. Sensasi yang diberikan bukit ini sangatlah berbeda. Selain kita dapat melihat uniknya batuan berbentuk jamur, kita juga akan merasa seolah-olah berada di negeri liliput, karena ukuran kita yang kecil dan berada di antara jamur-jamur yang sangat besar dan banyak. Salah satu batu jamur tersebut memiliki puncak yang tertinggi hingga mencapai 7 meter. Diperkirakan bahwa batu jamur tersebut terbentuk karena adanya abrasi selama bertahun-tahun hingga bentuk batu-batu jamur tersebut berubah tampak seperti sekarang. Dengan bentuk batu yang unik seperti jamur tersebut, bukit jamur ini menjadi tempat yang menarik serta unik untuk masyarakat sekitar. Bahkan, bukit jamur ini telah menyita perhatian dunia dengan banyaknya kunjungan warga asing demi melihat dan menikmati pesona dan keindahan tersembunyi bukit jamur tersebut.
























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
      Teori keindahan menimbulkan 2 kelompok teori yang terkenal, teori objektif dan teori subjektif. Teori obyektif yaitu keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetis adalah sifat yang memang telah melekat pada benda yang dijadikan objek. Sedangkan Teori subjektif memiliki ciri keindahan pada sesuatu benda sesungguhnya tidak ada, hanya tanggapan perasaan dalam diri seseorang yang mengamati suatu benda.

B.     Saran
1.      Perlunya pelatihan lapangan diadakan terhadap objek yang akan dikaji menggunakan teori ini.

2.      Perbedaan mengenai isi pembahasan jika ada perbedaan dengan pembaca mohon dimaklumi, karena penelitian ini bersifat subjektif sehingga pasti adanya perbedaan.